SEKATOJAMBI.COM, JAMBI – Pendekatan berbeda ditunjukkan Satuan Brimob Polda Jambi saat mengawal aksi damai masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba, Rabu (11/2/2026). Di tengah tugas pengamanan yang kerap identik dengan sikap tegas dan siaga penuh, personel Brimob justru berada di garis depan dengan wajah humanis—menyapa, berdialog, hingga membagikan tali asih kepada massa aksi.
Pengamanan aksi tersebut menjadi bagian dari implementasi program inovasi pelayanan publik TRANSFORMER yang diusung Polda Jambi. Program ini menekankan sentuhan kemanusiaan dalam setiap pelaksanaan tugas, termasuk saat menghadapi dinamika penyampaian aspirasi di ruang publik.
Sejak pagi, ratusan massa dari komunitas SAD berkumpul untuk menyampaikan tuntutan mereka secara terbuka dan damai. Aparat kepolisian terlihat bersiaga di sejumlah titik, memastikan arus lalu lintas tetap lancar serta mencegah potensi gangguan keamanan. Namun di sela pengamanan, sejumlah personel Brimob tampak membaur dengan massa.
Tali asih dibagikan langsung kepada perwakilan masyarakat dalam suasana penuh keakraban. Tidak ada jarak kaku antara aparat dan peserta aksi. Dialog ringan pun berlangsung, menciptakan atmosfer yang lebih cair tanpa mengurangi kewaspadaan petugas.
Kehadiran aparat mendapat respons positif dari peserta aksi. Beberapa tokoh masyarakat adat terlihat berdiskusi dengan personel di lapangan, membahas jalannya kegiatan sekaligus memastikan aspirasi tetap tersampaikan sesuai koridor hukum.
Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno H. Siregar melalui Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol. Erlan Munaji menegaskan, pola pengamanan yang mengedepankan pendekatan persuasif merupakan komitmen institusinya.
“Dalam setiap pengamanan kegiatan masyarakat, kami menekankan kepada seluruh personel untuk tetap mengedepankan sikap humanis. Kehadiran Polri bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberi rasa nyaman serta menunjukkan kepedulian kepada masyarakat,” ujar Kombes Pol. Erlan Munaji.
Ia menjelaskan, langkah tersebut sekaligus menjadi ruang membangun komunikasi yang lebih terbuka antara kepolisian dan masyarakat, termasuk komunitas adat yang memiliki karakteristik sosial dan budaya tersendiri.
“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa Polri hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Pendekatan dialogis dan penuh empati menjadi kunci dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif,” tambahnya.
Sepanjang kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan tertib. Massa aksi menyampaikan aspirasi tanpa insiden berarti, sementara aparat tetap menjalankan fungsi pengamanan secara profesional.
Model pengamanan berbasis empati ini menjadi cerminan perubahan wajah pelayanan publik di tubuh Polri. Di tengah tantangan menjaga stabilitas keamanan, pendekatan yang menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi dinilai mampu memperkuat kepercayaan publik—terutama bagi komunitas adat yang kerap merasa berada di pinggiran kebijakan.
Pendekatan humanis di lapangan, seperti yang ditunjukkan Brimob Jambi, menjadi pesan bahwa keamanan dan kepedulian sosial bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam praktik penegakan hukum yang berkeadaban.
































