SEKATOJAMBI.COM, SAROLANGUN – Ketegangan meledak di Dusun Muara Cuban, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Senin (23/2), saat puluhan warga memblokade lokasi bongkar muat Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Warga menuntut penghentian total aktivitas tambang ilegal yang dinilai merusak infrastruktur desa dan mengganggu tatanan sosial masyarakat.
Warga membawa karton berisi tuntutan, seperti “Maaf, aktivitas tambang emas ilegal harus ditutup karena jalan rusak parah” dan “Desa kami desa wisata, bukan desa PETI”. Pagar kawat berduri dipasang di akses masuk alat berat ekskavator sebagai bentuk protes.
Adu mulut pecah saat pemilik tambang menolak menutup akses jalan. Situasi nyaris berujung bentrok fisik sebelum mediasi tokoh masyarakat meredam ketegangan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kesepakatan tercapai.
Edi S. Latief (45) menuturkan, masyarakat sudah lama menahan kekecewaan karena jalan desa rusak parah dan aktivitas PETI merusak perekonomian.
“Kendaraan logistik tak bisa melintas, pengunjung desa wisata enggan datang, dan kondisi jalan makin parah,” ujarnya.
Selain kerusakan jalan, aktivitas PETI diduga mencemari sumber air warga yang kini keruh dan berlumpur, memicu ketegangan antarwarga.
Muncul dugaan pihak tertentu membekingi aktivitas tambang ilegal. Pemilik tambang mengklaim alat berat masuk setelah memenuhi syarat panitia pengatur jalan desa.
Namun, kerusakan jalan juga disebabkan truk BBM yang melampaui tonase jalan. BBM tersebut diduga campuran minyak subsidi dan minyak masakan hasil pengeboran ilegal untuk menghindari pajak.
Warga menuding keterlibatan oknum aparat penegak hukum (APH) dalam distribusi pasokan BBM ke aktivitas PETI.
“Kami berharap aspirasi ini sampai ke pemerintah pusat. Dugaan pembekingan aparat membuat aktivitas ini berjalan leluasa,” kata Sukarni, warga lainnya.
Hingga laporan ini disusun, Kapolsek dan Kapolres Sarolangun belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan keterlibatan aparat dan langkah penegakan hukum atas PETI serta kerusakan fasilitas publik di Batang Asai.
Kondisi di lokasi masih tegang. Warga menegaskan akan terus memblokade akses jalan sampai pemerintah dan aparat bertindak tegas menghentikan aktivitas tambang emas ilegal di wilayah mereka.
































