SEKATOJAMBI.COM, TANJABBAR – Keterisolasian akses pendidikan di pelosok Tanjung Jabung Barat perlahan terurai. Kodim 0419/Tanjab menuntaskan pembangunan Jembatan Beton Garuda Tahap III dan IV di Desa Teluk Ketapang, Kecamatan Senyerang, yang kini resmi dapat digunakan, Jumat (24/04/2026).
Peresmian dilakukan oleh Komandan Kodim 0419/Tanjab, Letkol Inf Zulhiardi, S.I.P., M.Han., melalui Danramil 419-03/Tungkal Ilir, Kapten Inf Rakhmat S.Psi. Infrastruktur yang berdiri tepat di kawasan SMA Negeri 17 Tanjung Jabung Barat itu menjadi penanda selesainya program kerja Kodim Tahun Anggaran 2026 dengan capaian 100 persen.
Jembatan beton tersebut bukan sekadar proyek fisik. Keberadaannya diproyeksikan sebagai jalur vital yang menghubungkan aktivitas pendidikan dan mobilitas warga. Selama ini, akses menuju sekolah kerap menjadi kendala bagi siswa dan tenaga pengajar, terutama saat kondisi cuaca tidak bersahabat.
Dalam sambutan tertulis Dandim yang dibacakan Kapten Inf Rakhmat, ditegaskan bahwa pembangunan ini merupakan manifestasi kemanunggalan TNI dengan rakyat. Lebih jauh, proyek tersebut juga diposisikan sebagai bentuk dukungan konkret terhadap peningkatan sarana pendidikan di wilayah terpencil.
“Jembatan ini diharapkan mampu memberikan kemudahan akses bagi siswa, guru, dan masyarakat, sekaligus mendorong konektivitas wilayah,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Peresmian turut dihadiri Sekretaris Camat Senyerang Zahrul Wafa, Kepala Desa Teluk Ketapang Fadli, S.H., Kepala SMA Negeri 17 Harliawan, S.Pd., serta tokoh masyarakat setempat. Kehadiran para pemangku kepentingan itu memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur di tingkat desa tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari kerja kolektif lintas sektor.
Dengan rampungnya Jembatan Garuda Tahap III dan IV, masyarakat Desa Teluk Ketapang kini memiliki akses yang lebih aman dan layak. Kegiatan peresmian berlangsung aman dan tertib, sekaligus menandai dimulainya pemanfaatan jembatan secara resmi oleh pihak sekolah dan warga.
Langkah ini menjadi indikator bahwa pembangunan berbasis kebutuhan riil masyarakat—terutama di sektor pendidikan—masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dijawab secara konkret dan berkelanjutan.































