Sekatojambi.com (Kota Jambi) Deretan paket swakelola bernilai besar di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Batanghari, Kementerian Kehutanan memunculkan pertanyaan serius soal efektivitas belanja rehabilitasi lahan dan pengendalian DAS di Provinsi Jambi.
Berdasarkan dokumen yang terekam dalam sistem SIRUP, sejumlah paket strategis muncul berulang pada Tahun Anggaran 2025 dan 2026, mulai dari penanaman rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), pemeliharaan tanaman, produksi bibit, pembuatan dam penahan, gully plug, hingga pembangunan Kebun Bibit Rakyat (KBR).
Yang menarik, sebagian besar paket menggunakan skema swakelola, dengan nilai mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah per item.
Temuan Paket Bernilai Besar
Dari dokumen yang Anda lampirkan, teridentifikasi beberapa paket utama:
Tahun 2025
- Pemeliharaan RHL Tahun II 420 Ha → Rp1,727 miliar
- Pemeliharaan RHL Tahun I 400 Ha → Rp2,184 miliar
- Penanaman RHL 125 Ha → Rp3,920 miliar
Tahun 2026
- Penanaman RHL 250 Ha → Rp1,568 miliar
- Pemeliharaan Tahun II 400 Ha → Rp932,7 juta
- Produksi bibit 300.000 batang → Rp600 juta
- Insentif penanaman KBR 330.000 batang → Rp264 juta
- Pembuatan KBR 8 unit → Rp800 juta
- Pembuatan Dam Penahan 10 unit → Rp628,5 juta
- Pembuatan Gully Plug 40 unit → Rp444,1 juta
- Pemantauan rehabilitasi vegetatif masyarakat → Rp327 juta
- Belanja perjalanan dinas prioritas direktif presiden → Rp468 juta
- Belanja barang non operasional prioritas direktif presiden → Rp201 juta
Jika diakumulasi dari paket yang tampak pada tangkapan layar saja, nilainya sudah melampaui Rp13 miliar.
Pola yang Mencurigakan : Paket Dipecah dan Berulang
Hasil telaah investigatif menunjukkan adanya pola pengulangan nomenklatur paket:
- pemeliharaan tahun I dan II,
- penanaman RHL per blok luas,
- perjalanan dinas,
- belanja non-operasional,
- biaya pendampingan,
- produksi bibit,
- pengadaan patok batas,
- pembuatan bangunan konservasi tanah.
Pola seperti ini lazim, tetapi menjadi pertanyaan ketika:
- lokasi hanya ditulis umum: “sesuai sasaran lokasi kegiatan”
- tidak terlihat titik koordinat atau desa spesifik
- volume pekerjaan besar namun detail teknis minim
- paket perjalanan dinas dan operasional ikut membesar bersamaan proyek fisik
Secara investigatif, pola ini bisa mengarah pada “anggaran administratif yang membesar mengikuti proyek utama”, bukan fokus penuh pada output rehabilitasi lahan.
Pertanyaan Besar : Mana Dampak Nyata di Lapangan?
Publik berhak bertanya:
- apakah 250 Ha RHL benar-benar tertanam dan tumbuh?
- apakah 400 Ha pemeliharaan tahun II masih memiliki survival rate di atas 80%?
- di mana titik 10 dam penahan dan 40 gully plug tersebut?
- siapa kelompok masyarakat penerima KBR?
- bagaimana mekanisme verifikasi 300.000 bibit?
- apakah insentif KBR Rp264 juta tepat sasaran?
Tanpa data geospasial dan laporan pertumbuhan tanaman, paket bernilai miliaran ini rawan hanya menjadi angka serapan di atas meja.
Sorotan Belanja Non Fisik
Yang juga patut dikritisi adalah munculnya paket seperti:
- perjalanan dinas ratusan juta,
- barang non operasional,
- efisiensi,
- honor narasumber,
- moderator,
- konsumsi,
- penginapan.
Dalam proyek konservasi DAS, porsi belanja seperti ini semestinya proporsional. Bila terlalu dominan, ada risiko “proyek hijau yang gemuk di administrasi, kurus di lapangan.”
































