SEKATOJAMBI.COM, JAMBI – Suasana berbeda tampak di Masjid At-Taubah Lapas Jambi, Rabu (25/02/2026). Di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan, lantunan ayat suci mulai menggema, menandai dibukanya pesantren kilat sebagai bagian dari upaya mengisi Bulan Suci Ramadan dengan pembinaan keagamaan yang terarah dan terukur.
Program tersebut akan berlangsung selama enam hari. Tiga hari pertama difokuskan pada pembekalan materi keagamaan, sementara tiga hari berikutnya diisi dengan perlombaan bernuansa Islami. Kegiatan itu meliputi lomba tilawah Al-Qur’an, hafalan surah-surah pendek, pidato keagamaan, serta lomba adzan.
Pihak lapas mendorong partisipasi aktif dari seluruh blok hunian. Setiap blok ditargetkan mengirimkan sedikitnya 50 warga binaan beragama Islam untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Target ini bukan sekadar angka, melainkan bagian dari strategi pembinaan kolektif agar nilai-nilai spiritual dapat tumbuh secara masif di lingkungan lapas.
Kepala Lapas Jambi, Syahroni Ali, dalam kesempatan itu juga menyerahkan secara simbolis bantuan 70 sarung gratis kepada warga binaan. Bantuan tersebut diharapkan menunjang kenyamanan mereka dalam menjalankan ibadah, terutama selama Ramadan yang menjadi momentum refleksi dan penguatan iman.
Dalam sambutannya, Syahroni Ali menegaskan bahwa pesantren kilat bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai ruang perenungan sekaligus titik balik.
“Melalui kegiatan pesantren kilat ini, kami harap warga binaan dapat memanfaatkan momentum Ramadan ini untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri, dan rajin mengisi waktu luangnya dengan beribadah di masjid ini,” ujarnya di hadapan peserta.
Pembinaan keagamaan di lingkungan pemasyarakatan, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter. Pendekatan spiritual dinilai mampu membangun kesadaran internal yang lebih kuat dibanding sekadar penegakan disiplin formal.
Pesantren kilat ini sekaligus menjadi refleksi atas fungsi lembaga pemasyarakatan yang tidak hanya menjalankan aspek pengamanan, tetapi juga pembinaan. Ramadan dimanfaatkan sebagai medium untuk memperkuat nilai tobat, introspeksi, serta kesiapan kembali ke tengah masyarakat.
Dengan adanya program pembinaan spiritual yang berkelanjutan, Lapas Jambi menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan positif yang mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan. Harapannya, ketika masa pidana berakhir, mereka tidak sekadar bebas secara hukum, tetapi juga memiliki fondasi moral dan spiritual yang lebih kokoh.































